Chikungunya…jangan panik!

12 September 2009 at 02:50 (Pengetahuan)

Penyakit Chikungunya atau yang dikenal juga dengan penyakit flu tulang, ternyata akhir-akhir ini menjadi banyak pembicaraan lagi, beberapa daerah di Indonesia mulai bermunculan kasus-kasus baru. Beberapa wilayah di Sumatera, seperti Aceh, Prabumulih dan  Muare Enim. Di wilayah Jawa seperti Jawa barat dan Jawa Tengah cukup banyak ditemukan.

Nyamuk DBD

Aedes aegypty, vektor demam berdarah dan chikungunya

 

Chikungunya berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up), mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia).

Perkembangan Demam Chikungunya, yang disertai dengan perubahan iklim dari musim panas ke penghujan memerikan andil besar dalam peningkatan kasus. Saat ini beberapa kasus memang dilaporkan sebagai Demam Berdarah Dengue, hal ini dikarenakan gejala yang ditimbulkan amat mirip dan juga vektornya juga sama, yaitu Nyamuk Aedes.

Secara umum dapat digambarkan bahwa penyebab penyakit ini adalah dari golongan  virus, yaitu Alphavirus dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Sebagaimana diketahui juga bahwa jenis nyamuk tersebut juga menjadi perantara penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue. Jenis nyamuk ini dapat berkembang biak dengan baik terutama pada pergantian musim. Biasanya berkembang biak dengan cara bertelur pada genangan-genangan air, seperti di tempayan, bak mandi hingga kaleng-kaleng bekas. Ia dapat berkembang biak meskipun dengan genangan air yang sedikit sekalipun.

Pemberantasan DBD

Penyemprotan hanya membunuh nyamuk dewasa

Penyakit ini pertama kali ditemukan  daratan Afrika yang berkembang terus hingga kedaratan Asia. Di Indonesia sendiri ditemukan pada sekitar tahun 1973. berdasarkan Laporan Depkes, Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate, Yogyakarta selanjutnya berkembang ke wilayah-wilayah lain.

Penyakit ini pernah menjadi out break di Indonesia, yaitu pada sekitar tahun 2001. Beberapa wilayah yang dilaporkan menjadi Kejadian Luar Biasa pada waktu itu adalah di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Disusul Bogor bulan Oktober. Setahun kemudian, demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi (Jawa Barat), Purworejo dan Klaten (Jawa Tengah). Jumlah kasus chikungunya yang terjadi sepanjang tahun 2001-2003 mencapai 3.918 kasus. meskipun demikian belum ada laporan tentang kematian akibat kasusu ini.

Penyakit Chikungunya mempunyai gejala awal berupa demam biasa yang disertai dengan adanya nyeri pada persendian. Gejala-gejala secara umum mirip flu, rasa nyeri pada persendian biasanya diikuti pula dengan kelemahan pada pergerakkan bagian persendian tersebut hingga terjadi kelumpuhan. Pada anak biasanya ditemukan ruam-ruam merah yang  muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah, kadang sering pula disertai dengan  dengan adanya kejang. beberapa tanda pada anak yang lebih besar dapat ditemukan perasaan mual hingga muntah-muntah.

Tidak perlu panik, karena penyakit ini tidak menimbulkan kematian. Kelemahan yang terjadi pada bagian persendian tidak menimbulkan kelumpuhan yang permanen. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di warung. Yang penting cukup istirahat, minum dan makanan bergizi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: