Pahitnya Kencing Manis…?

6 November 2009 at 02:31 (Umum)

Dampak Diabetes Mellitus, Ganggren

Ganggreen

Salah satu penyakit degeneratif yang saat ini terus-menerus meningkat angka penderitanya adalah kencing manis atau dalam bahasa kedokterannya disebut dengan diabetes mellitus. Banyak penderita diabetes ini, sangat memungkinkan mengingat perubahan tingkat pola konsumsi dan pola kehidupan dinegara yang mulai meningkat kesibukkan dan stressingnya. Hal ini menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus dan Kadiovaskuler.

Perlunya pencegahan sejak dini dapat mengurangi resiko komplikasi yang ditimbulkan, oleh karena itu masyarakat harus tahu dan mampu menjaga kesehatannya dengan baik. Berbagai obat dan therapi saat ini memang telah berkembang maju, tetapi bukan berarti pencegahan menjadi diabaikan. Bukankan ada pepatah yang mengatakan bahwa “Mencegah lebih baik dari mengobati”, maka dari itu marilah kita sedini mungkin melakukan pencegahan sebelum semuanya menjadi terlambat.

Dalam kaitan dengan rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN), Ikatan Dokter Indonesia cabang Propinsi Sumatera Selatan mengadakan seminar sehari tentang Diabetes Mellitus dan pencegahannya (05/11/09). Pada  seminar tersebut dipaparkan bahwa secara epidemiologi diperkirakan pada tahun 2030 Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004).

DM

Diabetes Mellitus Tipe 1

Dalam sambutannya, Prof. Tjandra Yoga juga menjelaskan, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit. Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe, yaitu :

  1. DM yang disebabkan keturunan.
  2. DM yang disebabkan life style atau gaya hidup.
Gaya Hidup

Life Stylee

Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes. Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Pengendalian DM lebih diprioritaskan pada pencegahan dini melalui upaya pencegahan faktor risiko DM yaitu upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Pencegahan terhadap penyakit Diabetes Melitus dapat dilakukan dengan beberapa cara, dan terbagi menjadi beberapa tipe.

Pola Hidup Sehat

  1. Pencegahan primer Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan kepada orang-orang yang termasuk ke dalam kategori beresiko tinggi, yaitu orang-orang yang belum terkena penyakit ini tapi berpotensi untuk mendapatkannya. Untuk pencegahan secara primer, sangat perlu diketahui terlebih dahulu faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap terjadinya diabetes melitus, serta upaya yang dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut. Edukasi berperan penting dalam pencegahan secara primer.
  2. Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder merupakan suatu upaya pencegahan dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal. Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan penyaring. Hanya saja pemeriksaan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengobatan penyakit sejak awal harus segera dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyakit menahun. Edukasi mengenai diabetes melitus dan pengelolaannya, akan mempengaruhi peningkatan kepatuhan pasien untuk berobat.
  3. Pencegahan tersier Jika penyakit menahun diabetes melitus terjadi kepada Anda, maka para ahli harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan merehabilitasi penderita sedini mungkin sebelum penderita mengalami kecacatan yang menetap. Contohnya saja, acetosal dosis rendah (80 – 325 mg) dapat diberikan secara rutin bagi pasien diabetes melitus yang telah memiliki penyakit makroangiopati (pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak, pembuluh darah kapiler retina mata, pembuluh darah kapiler ginjal). Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan. Sesuai dengan tema Hari Diabetes Sedunia tahun 2009, “Pahami Diabetes dan Kendalikan“, maka memahami diabetes harus dilakukan secara menyeluruh, baik faktor risikonya, diagnosanya maupun komplikasinya. Dan Kendalikan Diabetes sangatlah penting dilaksanakan sedini mungkin, untuk menghindari biaya pengobatan yang sangat mahal. Bahkan semenjak anak-anak dan remaja, gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi banyak sayur dan buah, membiasakan olah raga dan tidak merokok merupakan kebiasaan yang baik dalam pencegahan Diabetes Melitus. Oleh karena itu, peran para pendidik baik formal maupun informal, edukator DM dan para kader sangat memegang peranan penting untuk menurunkan angka kesakitan DM.

1 Komentar

  1. Shinta dwintari said,

    wah ..perlu di copy nich>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: