Gambaran umum Manajemen Survey

A. PENGANTAR

Penelitian survei mengkaji populasi yang besar maupun kecil dengan menyeleksi serta mengkaji sampel yang dipilih dari populasi tersebut. Survei-survei yang tercakup dalam difinisi ini sering disebut sebagai survei sampel, mungkin karena penelitian survei berkembang sebagai kegiatan penelitian tersendiri seiring dengan perkembangan dan penyempurnaan prosedur-prosedur penyusunan sampel (sampling).

Penelitian survey dipandang sebagai suatu cabang penelitian ilmiah dalam ilmu sosial. Arah minat penelitian survei adalah membuat taksiran yang akurat mengenai karakteristik keseluruhan populasi. Survei juga merupakan alternatif yang efisien dibandingkan sensus populasi karena hanya mengambil “sebagian” dari populasi (sampel yang ditarik dari populasi). Dari sampel-sampel semacam itu selanjutnya di-inferensikan (disimpulkan) karakter dari populasi yang menjadi tujuan penelitian. Untuk itu kajian terhadap sampel yang merupakan dasar atau sumber penyusunan inferensi mengenai populasi tersebut sangatlah diperlukan. Sampel secara acak seringkail dapat menyajikan informasi yang sama dengan yang dapat diberikan oleh sensus dengan biaya yang jauh lebih kecil, efisiensi tinggi dan kadang akurasinya lebih besar !.

Survei sampel memusatkan perhatian pada manusia, fakta vital mengenai  mereka, kepercyaan, sikap, pengetahuan, motivasi, perilaku dan lain-lain.

Tipe Survei

Survei dapat dikelompokkan secara sederhana menurut metode yang digunakan untuk memperoleh informasi, antara lain : kuesioner, kuesioner lewat pos, panel, internet dan telepon. Yang paling umum digunakan untuk penelitian ilmiah adalah kuesioner melalui wawancara pribadi.

Penelitian survei yang paling umum menggunakan wawancara sebagai metode utama pengumpulan informasi. Kuesioner digunakan sebagai alat pengumpulan informasi. Informasi yang ingin diperoleh meliputi informasi faktual, pendapat dan sikap, alasan perilaku, pengetahuan, pendapat, intensi, dan lain sebagainya.  Informasi faktual berisi data individual misalnya sex, marital, pendidikan, penghasilan, anak, umur, agama dan lain sebagainya. Informasi semacam ini mutlak diperlukan karena bisa dipergunakan untuk mengkaji relasi antara variabel dan mengecek ke-adekuatan sampelnya. Data ini biasanya diletakkan pada bagian awal kuesioner. Informasi diperoleh pada awal wawancara. Sebagian besar darinya bersifat netral dan membantu pewawancara menjalin hubungan dengan respondennya. Pertanyaan yang bersifat pribadi seperti menyangkut penghasilan dan kebiasaan pribadi bisa ditaruh di bagian akhir karena terkadang sulit dan memerlukan “teknik khusus” untuk mengungkapnya. Penetapan “timing” pengajuan pertanyaan memerlukan adanya pemahaman yang mendalam akan isi kuesioner, tujuan penelitian dan juga kearifan dan pengalaman.

Bentuk-bentuk lain informasi faktual mencakup hal yang diketahui oleh responden meisalnya mengenai objek yang sedang ditelaah, hal yang dilakukan subjek sebelumnya sekarang dan yang ingin dilakukan di waktu nanti. Kita dapat menyatakan sebagai “fakta” meskipun jawaban atas pertanyaan perilaku yang diajukan baru merupakan intensi (niat).

Wawancara dapat membantu mengetahui alasan responden untuk melakukan (atau mempercayai atau meyakini dll) sesuatu. Bila pertnyaan berkisar mengenai alasan atas tindakan, kehendak, atau keyakinannya, orang mungkin dapar menyatakan bahwa dirinya telah melakukan sesuatu, berkehendak melakukan sesuatu. Responden mungkn akan menyatakan bahwa afiliasi kelompok atau loyalitas atau kejadian tertentu telah mempengeruhinya. Atau boleh jadi dia mendengar tentang ihwal yang sedang diteliti itu dari komunikasi media massa.

Keinginan, nilai dan kebutuhan seorang responden dapat mempengaruhi sikap dan tindakannya. Ketika menyatakan mengapa mendukung Bantuan Langsung Tunai (BLT)  responden mungkin akan mengungkapkan bahwa karena dia orang tidak mampu, karena ingin memperoleh income dan lain sebagainya. Jika individu yang kita wawancara telah mengungkapkan keinginan, nilai dan kebutuhannya secara akurat dan dapat mengungkap secara verbal maka wawancara ini akan menjadi sangat berharga.

Rapat

Rapat perencanaan Survey

Tipe survey lain yang juga kadang digunakan adalah survei telepon (misal yang sering dilakukan oleh siaran media massa untuk merangkum opini) memiliki lebih banyak kekurangan dibanding kelebihannya. Kelebihan yang diperoleh diantara waktu yang singkat, dan biaya yang rendah. Kelemahannya diantaranya adalah (khususnya jika pewawancara tidak dikenali) responden tidak menanggapi, sikap tidak kooperatif, keberatan memberikan jawaban, tidak mampu untuk memperoleh informasi secara rinci.

Kuesioner pos merupakan jenis lain dari survei. Kelemahannya diantaranya adalah kemungkinan kurangnya respon dan ketidak mungkinkan mengecek respon yang diberikan. Respon terhadap kuesioner pos ini biasanya sangat buruk dengan tingkat pengembalian rata-rata 40 – 50 % saja. Belum lagi kendala sosial di Indonesia (buta huruf, politis dll). Dengan pengembalian seperti itu maka akan menyulitkan generalisasi tingkat validitas.

Meskipun ada beberapa strategi untuk meningkatkan pengembalian misalnya dengan menyelipkan uang, kuesioner lanjutan, namun metode ini menyebabkan meledaknya anggaran biaya dan waktu survei. Tingkat kembalian yang relatif baik  kurang lebih berkisar 80 – 90%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: