Bunuh diri meningkat di Jepang

4 Maret 2011 at 14:39 (Berita)

Bunuh Diri

Angka bunuh diri di Jepang meningkat 20 persen pada tahun 2010. Terbanyak, mereka yang bunuh diri adalah para pengangguran yang putus asa karena tidak juga mendapat kerja.

Laporan ini dikeluarkan oleh kepolisian nasional Jepang (NPA) sebagai bagian dari studi bunuh diri tahunan, dilansir dari laman CNN, Kamis, 3 Maret 2011.
Pada laporan itu, pada tahun 2010 terdapat sebanyak 424 orang yang bunuh diri karena tidak mendapatkan pekerjaan. Sebelumnya, pada 2009, angka bunuh diri pengangguran adalah 354.

Laporan NPA menyebutkan para pengangguran yang bunuh diri kebanyakan adalah mahasiswa

atau sarjana. Pada 2009, angka mahasiswa pengangguran bunuh diri mencapai 23 orang. Angka ini bertambah pada 2010 dengan 53 orang, 130 persen lebih banyak.

Selain pengangguran putus asa, NPA menyebutkan angka bunuh diri pada para penjaga anak atau baby sitter juga meningkat. Pada tahun 2010, angka baby sitter yang bunuh diri

sebanyak 157 orang, meningkat 44 persen dari tahun sebelumnya.

Jepang merupakan salah satu negara dengan angkat bunuh diri tertinggi di dunia. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan mengatakan angka bunuh diri di Jepang mencapai hingga 30 ribu orang per tahunnya, selama 13 tahun berturut-turut.

Angka ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena menyumbang hingga 3,5 persen penurunan populasi di Jepang yang mencapai 127 juta orang. Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menjadikan upaya untuk menekan angka bunuh diri sebagai prioritas pada pemerintahannya. Sebelumnya, Naoto Kan mengatakan, dia bertujuan mengurangi faktor-faktor yang membuat rakyat tidak bahagia.

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Akhir dari Pertaruhan Sang Pemimpin

1 Maret 2011 at 16:04 (Politik dan Hukum)

Demo Karyawan

Pergolakkan yang terjadi di RSUD Kota Prabumulih selama beberapa hari ini adalah merupakan suatu cerminan dari kurangnya manajemen kepemimpinan  yang hakikatnya tidak hanya mampu men-direct tetapi juga harus mampu memberikan teladan dan panutan kepada bawahannya. Kepemimpinan yang berhasil bukan hanya dari satu orang pemimpin saja, tapi hasil kerja keras dari seluruh elemen yang mendukung kinerja kepemimpinannya. Kami tidak bermaksud untuk menyimpulkan bahwa kepemimpinan di RSUD Kota Prabumulih gagal total, tetapi mencoba untuk mengurai kembali benang yang mulai kusut sehingga tidak bertambah kusut.

Secara umum memang tidak nampak kegagalan menejemen, bahkan hasil audit juga relatif baik.  Kalau boleh diumpamakan danau yang tenang tampak jernih dan teduh diatasnya, tetapi kita tidak tahu bila didasar danau banyak ular dan buaya yang setiap saat akan naik kepermukaan dan memangsa apa saja yang ada disekitarnya. Perumpamaan ini adalah kondisi yang terjadi saat ini di RSUD Kota Prabumulih, dimana manajemen hanya berhasil membuat para petingginya senang. Dengan angka-angka mereka puas, kalau kinerja bawahannya sudah berhasil, sementara mereka tidak tahu lebih dalam kondisi sebenarnya yang terjadi.

Kepemimpinan model ini hanya menghasilkan orang-orang rakus, orang-orang munafik dan gila kekuasaan , sehingga akhirnya akan menindas orang-orang yang lemah. Budaya asal bapak/ ibu senang dan semua tidak ada masalah, sudah menjadi kata sandi utama bagi sang bawahan untuk menjilat pemimpinnya.Bahkan atas nama sang pemimpin pula para penjilat mampu mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Praktek korupsi, kolusi dan nepotisme akhirnya merajalela, bukan hanya isapan jempol semata tapi terkadang benar-benar terjadi di depan mata.

Banyak orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin, tetapi sangat sedikit yang mampu memimpin dengan baik, sehingga diantara mereka gagal bahkan hancur hargadiri dan martabatnya. Pergulatan yang berat antara ambisi, kekuasaan dan harga diri tetapi tidak diimbangi dengan kemapanan dalam berbagai hal, termasuk menciptakan bawahan yang pekerja keras, tangguh disiplin,  patuh dan taat pada pemimpinnya, tetapi tidak menjilat.

Lalu kenapa ada gejolak? …

Jawabanya mungkin bisa singkat, atau justru malah harus dijelaskan berhari-hari bahkan seumur hidup mungkin tak menemukan jawabannya.

Sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh orang yang menjadi pemimpin itu sendiri, apakah mereka sudah memimpin dengan hati nurani? …Untuk yang belum punya hati nurani tidak usah cari jawabannya.

Bagi yang punya sedikit hati nurani, Apakah mereka akan legowo meninggalkan jabatannya ketika situasi sudah tidak memungkinkan lagi ? Pertanyaan-pertanyaan diatas hanya sebagian kecil dari penjelasan yang bisa dijabarkan dari pertanyaan pertama.

Kehadiran pemimpin-pemimpin  kecil dengan mentalitas penjilat yang hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri dan kelompokknya, terkadang luput dari pantauan pemimpin besar. Apalagi sang pemimpin besarpun sudah setengah hati memimpin, mau mundur sudah kepalang mau maju sudah terhalang. Jadilah Pemimpin besar boneka pemimpin penjilat.

Demo atau unjuk rasa yang terjadi adalah letupan dari hasil kekecewaan yang memuncak dari orang-orang yang merasa dizalimi. Berbagai upaya sudah mereka lakukan mulai dari melaporkannya pada sang atasan hingga mengajak dialog, tetapi karena carut marutnya manajemen maka hal tersebut tidak dianggap. Bahkan dengan angkuhnya sang “penjilat” tidak pernah menanggapi keluhan bawahan dan menantang bawahan dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan berunjuk rasa menentang, mereka akan selalu patuh dan taat pada  sang pemimpin. Kalau sudah begini tentu manajemen yang sudah dibangun dengan susah payah oleh sang pemimpin besar akan hancur, tinggal menunggu waktu. (Al.Ichwan/1102)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tes CPNSD

9 November 2009 at 08:01 (Politik dan Hukum)

Pelaksanaan Tes bagi Calon Pegawai Negeri Sipil Di Sumatera Selatan berjalan sukses. Dari segi kegiatan yang telah dilakukan secara serentak tersebut, berhasil dilaksanakan di 14 Kabupaten dan Kota Di Seluruh Sumatera Selatan . Walaupun demikian, sebagaiman penyelenggaraan sebelumnya masih juga ditemukan perjokian atau percaloan sebagaimana yang ditemukan di salah satu Kabupaten dengan jokki seorang mahasiswa Perguruan Tinggi setempat. Sungguh miris bila calon birokrat kita sudah berpikir praktis dan instan, bagaimana mau ngurusi masyarakat yang notabene sangat kompleks. Sepertinya bukan hanya kejaksaan yang perlu direformasi, tetapi PNS juga sepertinya perlu direformasi. Ulah main jokki dan percaloan yang sudah marak ditemukan terutama dalam penerimaan CPNS sudah merupakan suatu bukti jika sudah dari sejak awalnya seseorang yang akan menjadi CPNS sudah bermental sogokkan.  Kejadian seperti diatas mungkin hanya bagian kecil dari cerita ini, banyak kisah lain di berbagai daerah yang juga luput dari pemberitaan mass media. Ini mungkin menyadarkan kepada kita pula bahwa negara ini memang sudah sangat semrawutnya. Kalau sudah begini hanya tinggal satu pertanyaan klasik, kapan kita akan berubah?

Memang di balik itu semua masih ada juga berita yang menggembirakan paling tidak secara parsial digambarkan seperti itu, misalnya pada tahun ini distribusi seluruh soal relatif tidak bermasalah dan dapat dijawab dengan baik oleh para peserta test.

walikota

Walikota Prabumulih, Drs. H.Rachman Djalili, MM

Kegiatan test di Kota Prabumulih sendiri mungkin hanya bagian kecil yang masih terlihat lancar, sebagaimana pemberitaan salah satu mass media lokal yang menyebutkan bahwa seluruh rangkaian berjalan tertib dan hal tersebut juga mendapat monitoring langsung dari walikota dan wakil walikota. Mudah-mudahan hal ini akan dapat ditingkatkan lagi kedepan karena kegiatan penerimaan ini sepertinya juga akan berlangsung secara rutin setiap tahunnya.

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Wajah Penegak Hukum Kita….oh..!!!!

3 November 2009 at 06:11 (Politik dan Hukum)

cicakMenyimak bersama di Televisi tentang rekaman pembicaraan yang diputarkan oleh MK siang ini, saya sungguh terkesima melihat beberapa petikan pembicaraan dari beberapa orang tersebut. Saya bertanya di dalam hati, apakah ini gambaran wajah para penegak hukum kita yang sebenarnya?

Sebagaimana kutipan pembicaraaan antara antara Anggodo dan mantan Jamintel Wisnu Subroto yang secara blak-blakkan, membuat saya tertawa terbahak-bahak. Padahal baru kali ini saya melihat dagelan di TV yang buat saya seperti itu, “lebih lucu bahkan dari lawakkan Tukul atau opera Van Java sekalipun. Mungkin para pemainnya bukanlah para pelawak profesional, bukan cerita kolosal bahkan sutradara terkenal, tetapi parodinya dapat terkenal seketika hingga diliput oleh para wartawan lokal maupun asing….so pasti terkenal sampai keluar negeri.

cicak2

Sekali lagi…Inikah wajah asli penegak hukum kita, haruskah kita tertawa dan tertawa terus hingga muak dan muntah?…

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bentuk Tim Pencari Fakta, ingin menemukan kebenaran?

2 November 2009 at 08:43 (Politik dan Hukum)

Berbagai dukungan moril memang turut disertakan oleh berbagai elemen masyarakat saat ini pada kedua mantan wakil ketua KPK ini. Termasuk dari civitas akademika berbagai perguruan tinggi. Berbagai upayapun turut dilakukan oleh kelompok elemen masyarakat ini, hingga munculnya wacana pembentukkan Tim Pencari Fakta (TPF), seperti kasus Munir.

Candra dan Bibit

Rencana pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) dalam upaya menyelesaikan polemik perseteruan antara kepolisian dan KPK, disambut positif akademisi. TPF diyakini mampu menemukan meredam keresahan masyarakat serta menemukan kebenaran kasus tersebut. Sedangkan Kuasa hukum KPK menyatakan Bibit dan Chandra terharu atas dukungan dari publik. Mereka berharap tidak akan ada lagi korban kriminalisasi.

 

Mudah-mudahan kasus ini segera berakhir, terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah karena kedua institusi ini sangat vital dalam upaya penegakkan hukum di Indonesia. Kepercayaan masyarakat tentang keseriusan pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi sangat dipertaruhkan. Semoga kasus ini segera berakhir dan kepentingan masyarakat luaslah yang dikedepankan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Gus Dur beri dukungan kepada KPK

31 Oktober 2009 at 04:04 (Berita)

K.H Abdulrachman Wachid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur secara tiba-tiba datang ke KPK hari ini (31/10/09). Kedatangan mantan Presiden RI tersebut adalah dalam upaya memberikan dukungan bagi KPK. “Beliau prihatin kepada perkembangan yang terjadi belakangan ini, tentang adanya dugaan rekayasa kriminalisasi dan upaya pelemahan KPK. Ada keprihatinan mendalam dari beliau,” kata Bambang.

GusDur-Dalam

Gus Dur, prihatin dengan upaya kriminalisasi KPK

Selanjutnya menurut Bambang, Gus Dur pun terus mengikuti perkembangan kasus KPK-Polri lewat media massa. Gus Dur, katanya, berharap kinerja KPK tidak terganggu dengan adanya penahanan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.”Beliau ingin KPK terus bekerja dan tidak ada ketakutan apapun. Beliau setuju melawan pihak-pihak yang ingin melemahkan KPK,” ujarnya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar